Alhamdulillah,
kita kembali dipertemukan oleh Allah SWT dengan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448
Hijriah. Bagi para Daà sejatinya pergantian tahun bukan sekadar pergantian
angka dalam kalender, tetapi momentum muhasabah, evaluasi, dan transformasi
gerakan dakwah. Pertanyaan penting yang harus kita ajukan kepada diri sendiri
sebagai para da'i adalah:
Apakah dakwah
kita hari ini masih menjawab kebutuhan umat?
Karena
kenyataannya, tantangan dakwah Indonesia hari ini tidak semakin ringan, tetapi
semakin kompleks.
Indonesia
adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Namun di balik
kebanggaan itu, tersimpan pekerjaan rumah yang sangat besar. Hasil riset
Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta yang dilakukan di 25 provinsi menunjukkan
bahwa sekitar 72,25% Muslim Indonesia belum mampu membaca Al-Qur'an dengan
baik.
Sementara
itu, Survei Nasional Literasi Al-Qur'an Kementerian Agama RI tahun 2023 yang
melibatkan 10.347 responden menemukan bahwa 38,49% responden belum memiliki
kemampuan literasi baca Al-Qur'an yang memadai. Survei tersebut juga
menemukan bahwa 22,2% responden mengaku tidak terdapat majelis pembelajaran
baca tulis Al-Qur'an di lingkungannya, dan dari daerah yang memiliki
majelis pembelajaran, 59,36% masyarakat tidak pernah mengikutinya.
Data ini
seharusnya menggugah hati kita.
Bagaimana
mungkin umat yang menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, tetapi sebagian
besar belum mampu membacanya dengan baik?
Di sisi lain,
masjid-masjid di banyak daerah masih menghadapi tantangan rendahnya kehadiran
jamaah laki-laki pada shalat berjamaah selain Jumat, Beberapa kajian bahkan
memperkirakan hanya sekitar 4–6% umat Islam yang rutin melaksanakan shalat
berjamaah di masjid, sementara jumlah yang konsisten melaksanakan shalat lima
waktu secara umum juga masih berada di bawah 40%. Kondisi ini menjadi tantangan
besar dakwah dan pembinaan umat di Indonesia. Pesantren-pesantren juga menghadapi tantangan
regenerasi santri akibat perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan semakin
banyaknya pilihan pendidikan modern.
Ini bukan
tanda kegagalan dakwah.
Tetapi tanda
bahwa medan dakwah telah berubah.
Jika dahulu
para da'i menghadapi masyarakat yang minim informasi, maka hari ini para da'i
menghadapi masyarakat yang dibanjiri informasi. Jika dahulu umat sulit
mendapatkan ilmu, maka hari ini umat justru kesulitan memilah ilmu yang benar.
Jika dahulu tantangan datang dari kebodohan, maka hari ini tantangan datang
dari distraksi, individualisme, hedonisme, dan krisis makna hidup.
Karena itu
dakwah tidak cukup hanya disampaikan.
Dakwah harus
dirasakan.
Dakwah tidak
cukup mengisi mimbar.
Dakwah harus
mengisi kehidupan.
Dakwah tidak
cukup berbicara tentang surga.
Dakwah harus
mampu menghadirkan nilai-nilai surga dalam keluarga, sekolah, kantor,
masyarakat, dan kehidupan berbangsa.
Tahun 1448 H
harus menjadi momentum lahirnya Da'i Transformasi.
Da'i yang
tidak hanya pandai berceramah, tetapi mampu menjadi pendidik, pendamping,
penggerak komunitas, pembangun peradaban, dan penghubung Al-Qur'an dengan
realitas kehidupan umat.
Kita
memerlukan dakwah yang lebih dekat dengan generasi muda, lebih hadir di ruang
digital, lebih kuat dalam literasi Al-Qur'an, lebih peduli pada persoalan
keluarga, dan lebih aktif membangun solusi sosial.
Rasulullah ï·º tidak hanya
mengajarkan ayat. Beliau membangun manusia. Beliau tidak hanya membangun
manusia. Beliau membangun keluarga. Beliau tidak hanya membangun keluarga. Beliau
membangun masyarakat. Dan dari masyarakat itulah lahir Madinah Al-Munawwarah,
sebuah peradaban yang menerangi dunia.
Hari ini,
warisan itu berada di tangan para da'i.
Maka memasuki
Tahun Baru 1448 H, mari kita teguhkan niat:
Dari dakwah
yang informatif menuju dakwah yang transformatif.
Dari sekadar
menyampaikan menuju menggerakkan.
Dari
membangun jamaah menuju membangun peradaban.
Karena
sesungguhnya umat ini tidak kekurangan masjid, tidak kekurangan majelis, dan
tidak kekurangan da'i yang dibutuhkan umat hari ini adalah para da'i yang mampu
menghadirkan Al-Qur'an sebagai solusi hidup, sehingga lahir generasi yang dekat
dengan Allah, kuat dalam ilmu, mulia dalam akhlak, dan bermanfaat bagi bangsa
serta kemanusiaan.
Selamat Tahun
Baru Islam 1448 Hijriah.
Saatnya para
da'i berhijrah dari zona nyaman menuju zona perjuangan. Dari rutinitas menuju
transformasi. Dari dakwah biasa menuju dakwah yang membangkitkan Umat Islam
indonesia menjadi sokoguru dunia.
Cari Blog Ini